Puas adalah rasa dan
yang namanya rasa itu sangat relatif dan subjektif. Satu hal sama bisa
menimbulkan perasaan berbeda pada dua orang yang berbeda. Karena itu penilaian
kepuasan itu tidak bisa dipukul rata. Kepuasan seseorang sangat dipengaruhi
oleh banyak faktor. Antara lain adalah faktor sosial ekonomi faktor kepribadian
yang melekat dan menjadi warna hidup seseorang karena pembawaan ataupun karena
pengaruh lingkungan maupun karena faktor latar belakang pendidikan. Ada
karyawan yang telah merasa puas dengan kondisi seperti yang saat ini dirasakan,
tetapi mungkin ada banyak karyawan yang tidak puas dengan situasi dan kondisi
itu. Sebagai contoh kita ambil soal lingkungan kerja termasuk didalamnya
masalah sistem, prosedur, fasilitas, peraturan, kinerja-kinerja yang telah
dicapai kondisi-kondisi fisik, lingkungan sosial maupun mental, semua itu dapat
menimbulkan interprestasi dan rasa yang berbeda. Ada karyawan yang merasa
sangat puas, ada yang cukup puas ada yang tidak puas . Hal ini adalah lumrah
dan menusiawi dan mengungkapkan rasa adalah hak asasi manusia. Sejauh ungkapan
rasa (puas atau tidak puas) itu tidak mengganggu ketertiban dan kepentingan
umum, maka tidak ada yang berhak untuk melarang.
Antara objek kepuasan dan subjek kepuasan memang tidak selalu bisa klop.
Karena setiap orang menilai, memandang sesuatu dari sudut atau titik pandang
yang berbeda. Rasa tidak puas itu bisa positif. Karenanya dinamika rasa tidak puas yang
hidup di lingkungan, tidak bijak kalau dipupus begitu saja. Rasa tidak puas itu
perlu ditumbuhkan dan disalurkan dalam bentuk manifestasi yang positif,
konstruktif dan objektif.
Komentar
Posting Komentar